Liburanku
di Blitar
Sore itu aku sedang pulang
sekolah, di depan rumah aku melihat ada motor budeku. Ternyata benar di ruang
tamu sudah ada bude dan anaknya yang bernama mbak yuyun. Akupun segera memberi
salam dan berjabat tangan. Budeku berkata kalau hari Sabtu depan aku diajak
pergi ke Blitar untuk mengantar bude sekeluarga karena budhe dan pakdhe sudah
tidak bekerja lagi di Surabaya karena pension, Akupun senang sekali karena
sudah lama aku tidak pergi ke Blitar
Hari yang kutunggu-tunggu
tiba,Sabtu pagi itu aku,Ibu dan adikku bersiap-siap untuk berangkat ke blitar. Kami naik kereta
api bersama tetangga bude yang ikut mengantar ke Blitar. Tiket sudah dipesan
seminggu yang lalu karena system untuk naik kereta api sekarang sudah berbeda
dengan pemesanan tiket dulu sehingga para penumpang dapat menentukan jadwal
keberangkatan atau kedantangan sendiri sesuai keinginan juga keuntungannya
penumpang bisa dapat tempat duduk.
Sesuai dengan tiket yang kami
beli, aku dan rombongan berangkat dengan kereta api penataran gerbong dua.
Karena belum pernah naik kereta api,kamipun bertanya-tanya pada petugas letak
letak gerbong kami dan tempat duduknya. Ternyata benar kamipun bisa mendapatkan
tempat duduk. Tepat pukul 07.30 WIB kereta berangkat. Di dalam kereta aku
senang sekali karena ini pengalaman pertamaku untuk naik kereta api.
Sepanjang perjalanan aku melihat
pemandangan melalui jendela kereta.Dari sana aku bisa bisa melihat sawah,ladang
dan rumah-rumah penduduk. Di dalam kereta banyak sekali para pedagang
menawarkan barang daganganya,mulai dari jepit rambut,sisir,dompet,buku,dll.
Makanan juga banyak dijual di kereta mulai dari permen,kacang-kacangan,sate
kerang,tahu sumedang sampai nasi bungkus. Hampir semua dagangannya itu murah
harganya di banding beli di luar kereta. Akupun membeli buku Granmar bahasa
inggris yang harganya murah Rp. 5000,-. Aku ternyata dengan ayahku yang tidak
ikut ke blitar karena harus bekerja ,Ayah ingin sekali membeli buku tentang
pijat akupuntur tradisional dan kebetulan di kereta ada yang menjualnya, akupun
membelikan buku itu untuk ayahku.
Tak terasa perjalanan kami
sudah sampai di Stasiun Kesamben pada pukul 12.00 WIB. Kamipun segera turun
dari kereta .Di depan stasiun sudah ada mobil yang menjemput rombongan kami
setiba di rumah bude alangkah kagetnya kami, karena disana sudah ada tamu dari
Sidoarjo yang lebih dulu tiba. Padahal bude ikut rombongan kami yang baru
datang. Kamipun segera bergegas menyiapkan makanan yang harus disuguhkan pada
tamu. Aku membantu pakdhe menurunkan barang- barang dari mobil. Ibuku memasak
di dapur untuk acara selamatkan dan tamu-tamu yang datang.
Saat semua pada sibuk untuk
pekerjaan masing-masing , aku yang saat itu sedang bermain di halaman depan
merasakan ada getaran dari dalam tanah. Semua menjerit dan berkata ‘’Ada Lindu,
ada lindu!’’. Ternyata getaran itu tadi adalah gempa kecil yang dalam bahasa
Jawa disebut lindu.Ternyata disana sering terjadi Lindu karena letaknya di
lereng bukit.
Malam harinya aku tertidur
pulas karena merasakan capek seharian sudah melakukan perjalanan pagi hari aku
sudah bangun, udara disana dingin sekali berbeda sekali dengan udara di Surabaya yang sangat panas. Setelah sholat
subuh kami berame-rame pergi ke pasar desa Ngadri dengan berjalan kaki. Di
pasar itu ada banyak penjual makanan tradisional yaitu Tiwul,blending,strawut
,jurawut dan dll yang harganya sangat murah kamipun berbelanja oleh-oleh dan
makanan tradisional lainnya.
Sepulang dari pasar aku bergegas
pergi ke belakang rumah bude untuk melihat kambing-kambing peliharaan bude.
Alangkah terkejutnya karena kulihat kambing yang sedang hamil sudah melahirkan.
Tapi anak kambing yang baru lahir itu berukuran kecil sekali dan anak kambing
yang baru lahir itu berukuran kecil sekali dan anak itu tidak bergerak.
Kupanggil pakdhe untuk memeriksa anak kambing itu, ternyata anak kambing itu
lahir prematur sehingga tubuhnya lemah dan kecil.Setelah diperiksa kambing itu
trnyata sudah meninggal kata pakdhe penyebab kambing itu melahirkan lebih cepat
dan waktunya karena pengaruh lindu kemarin sehingga kambingnya kaget dan
melahirkan secara mendadak.Setelah itu pakdhe mengajakku untuk menguburkan anak
kambing itu di belakang rumah. Aku segera mengambil cangkul dan membuat lubang
untuk menguburkan anak kambing itu. Setelah lubangnya cukup dalam pakdhe
memasukkan mayat anak kambing dan menguburnya dengan tanah.
Setelah selesai mengubur anak kambing aku
segera mandi.Setelah itu aku bermain layang-layang dengan anak-anak di desa
itu. Permainan layang-layang kami sangat seru karena angin disana berhembus
kencang dan tempatnya di lereng bukit, sehingga pemandangan seperti ini, karena
yang kulihat di Surabaya sangat berbeda dengan pemandangan disini. Di Surabaya
aku hanya melihat seretan mobil yang berjejeran di jalan raya ,udaranya sangat
panas dan debu bertebaran dimana-mana sedangkan disini udara begitu sejuk ,angin
sepoi-sepoi ,hamparan sawah hijau yang membentuk terasiring sungguh indah
dipandang mata.
Puas bermain layang-layang aku
diajak teman baruku yang bernama Wahyu pergi ke sungai. Tiba di sungai aku
melihat kerbau-kerbau disana yang sedang dimandikan oleh pemiliknya. Wahyu
mengajakku mandi di sungai karena hari sudah siang aku tidak ikut mandi bersama
anak-anak, Akupun pulang ke rumah budhe.
Setibanya di rumah budhe ibuku
bilang bahwa nanti sore aku harus pulang ke Surabaya pukul tiga. Tapi ibu dan
adikku tidak jadi pulang karena budhe masih membutuhkan bantuan ibu. Akhirnya
akupun pulang ke Surabaya, Tanpa ibu dan adikku.
Sore itu aku berangkat ke
Surabaya naik kereta api lagi.ibu mengantarku ke stasiun ibu berpesan agar aku
berhati-hati selama di kereta dan tidak tertidur saat hampir sampai ke stasiun
wonokromo saat tiba aku berpamitan pada ibu dan ibu mencium keningku aku naik
ke gerbong tiga dan mencari nomor tempat duduk sesuai tiketku aku duduk di
bangku bertiga yang seharusnya aku tempati bersama ibu dan adikku sehingga
tempat duduk itu aku pakai sendiri. Setba di stasiun kota lama Malang penumpang
sangat ramai, Banyak yang berdiri. Karena tempat dudukku masih kosong,aku
persilahkan seorang ibu yang berdiri untuk menduduki tempat duduk itu.
Tak terasa kereta sudah melaju
sampai di stasiun Kota Baru Malang, aku sudah mulai merasa ngantuk akupun
tertidur pulas di kereta.Suara pengamen sunggguh mengagetkanku, sehingga aku
terbangun. Kulihat jendela kereta dan ternyata aku sudah sampai di kota
Bangil.Perutku sudah mulai keroncongan, aku menunggu penjual nasi bungkus yang
lewat. Tak lama kemudian ada penjual nasi, akupun membelinya dengan lahap aku
melahap nasi pecel itu sampai ludes. Sambil aku menunggu untuk tiba di stasiun
Wonokromo.
Meskipun rasa kantuk menyerangku
lagi aku berusaha agar tidak tertidur karaena sebentar lagi sudah tiba. Tepat
pukul 19.10 WIB kereta sudah berhenti di stasiun Wonokromo. Aku segera turun dan
menelpon ayah untuk menjemputku. Ternyata ayah sudah menungguku di stasiun
karena ibuku lebih dulu menelponnya.
Dalam
perjalanan pulang ayah bertanya padaku bagaimana cerita selama kami di Blitar.
Akupun menceritakan semua pada ayah tentang pengalamanku mulai berangkat,selama
disana,sampai kepulangan sendiriku. Aku senang sekali dengan pengalaman
liburanku selama ini.Pengalaman ini tidak pernah akan kulupa.Ayah berkata bahwa
jika liburan sekolah nanti aku boleh mengunjungi budhe dan pakdhe di Blitar lagi.Mendengar
itu aku sangat senang sekali karena aku akan berpetualang ke Blitar lagi
sendiri. Blitarrrrrrrrr…………..aku akan datang lagi…………